Benarkah Akan Pisahnya Kekuasaan Dengan Al-Qur’an?

0
181

Sangkhalifah.co — Tersebar video ceramah pendek berdurasi 10.37 menit yang disampaikan oleh Ahmad Zen. Penyampaian bersifat provokatif dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat Indonesia. Setidaknya, ada 3 poin penting yang disampaikan oleh Ahmad Zen secara serampangan tanpa dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pertama, penyetiran hadis yang menyatakan bahwa pada saatnya kekuasaan dan Al-Qur’an akan terpisah dan itu menurutnya relevan dengan kondisi sekarang. Kedua, klaim penentang khilafah telah melawan sabda Rasulullah SAW. Dan ketiga, provokasi terhadap masyarakat untuk menjauhi ulama-ulama yang ‘dekat’ dengan penguasa. Ketiganya di sampaikan di depan para jama’ah pengajian dengan nihil data dan referensi yang jelas dari ulama-ulama salaf.

Secara periwayatan, hadis yang diklaim Ahmad Zaen itu merupakan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (90/20), Mu’jam Al-Saghir (2/42) dan Musnad Al-Syamiyiin (1/379).  Salah seorang rawi hadis tersebut adalah Yazid bin Martsam, yang mengaku meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal sahabat nabi. Ahmad Zaen sendiri tidak menyebut sumber dari salah satu kitab di atas. Entah dari mana ia mendapatkan hadis ini. Padahal, Abu Nu’aim sebagaimana dalam kitab Hilyatul Auliya jilid 5 halaman 166, hadis di atas ialah hadis yang gharib (asing) yang tidak meriwayatkan kecuali Yazid bin Martsam (salah satu rawi dalam hadis tersebut). Lebih lanjut Abu Nu’aim menegaskan bahwa hadis di atas “tidak sahih”, sebab Yazid bin Martsam ini sebetulnya tidak pernah mendengar hadis itu melalui Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat yang telah Yazid nukil sebagai perawi awal yang mendapatkan hadis tersebut dari nabi.

Tidak hanya Abu Nu’aim, Al-Haitsami sebagaimana dikutip At-Thabtani juga menyebut Yazid bin Martsam yang merupakan salah satu perawi hadis di atas tidak pernah mendapatkan itu dari Mu’adz bin Jabal. Ia pun dalam Majma’ az-Zawahid menegaskan bahwa hadis di atas telah dianggap dho’if (lemah) oleh para ulama dan seluruh rawi-rawi yang tsiqah (terpercaya). Lebih parahnya lagi malah sebagaimana disebut dalam Sahih Muslim (1854), Ummu Salamah istri nabi mengatakan hadis di atas ialah hadis yang dimanipulasi oleh sebagian penguasa yang zalim untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Mereka membuat-buat hadis di atas guna menipu masyarakat bahwa pemerintahnya pasti sejalan dengan Al-Qur’an. Hadis ini tidak berasal dari nabi. Hanya dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk kepentingan politik.

Sampai di sini jelas apa yang dilakukan Ahmad Zaen sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia adalah tindakan kebohongan. Ia mencatut-catut hadis palsu demi untuk membenci pemerintah sah. Padahal dalam Islam taat kepada pemerintah sah adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar, sedang membangkangnya adalah suatu pengkhianatan yang berkonsekuensi dosa. Bagaimana mau dikatakan pemerintah jauh dari Al-Qur’an, wakil presidennya saja ulama (berasal dari Organisasi Nahdlatul Ulama). Presiden Joko Widodo pun presiden yang paling rajin berkunjung ke pesantren-pesantren. Ia dicintai oleh banyak orang Islam di Indonesia. Adapun kemudian membubarkan organisasi sekelompok yang mengaku Islam seperti HTI dan FPI, bukan karena mengkriminalisasi ulama, akan tetapi pemerintah murni menegakkan hukum kepada orang yang mengaku ulama dan telah berbuat kriminal.

Klaim kedua yang dilontarkan Ahmad Zaen dalam video berdurasi 10.37 menit itu bahwa orang yang menentang khilafah dengan mengatakan negara yang menggunaka sistem khilafah tidak akan pernah menemukan kebaikan ia telah melawan sabda nabi yang artinya, “berpegang teguhlah dengan sunahku dan sunahnya para pemimpin yang diberi petunjuk serta yang cerdas-cerdas”. Klaim ini sangat gegabah, karena ia mencoba menggiring opini khilafah ala HTI dan sesamanya sama dengan khilafah masa keempat khalifah pasca nabi wafat. Nabi mengatakan demikian bukan untuk melegitimasi khilafah ala HTI yang niatnya mau memberontak, melakukan kekerasan verbal dan tindakan, dan menghujat pemerintah sah yang dilegalkan Islam. Akan tetapi melegitimasi pemimpin yang bisa memberikan kesejahteraan, keadilan, dan bertindak tegas kepada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk mencaci maki dan melakukan kekerasan atas nama agama.

Klaim ketiga adalah provokasi untuk menjauhi ulama-ulama yang dekat dengan penguasa. Ini adalah kesimpulan yang tidak mendasar, sama saja dengan mengeneralisir semua ulama yang dekat penguasa pasti buruk. Bukankah ulama yang kokoh dengan keimanan dan dakwahnya akan tetap teguh dengan pendiriannya sebagai penuntun umat, dan ia dengan dekat penguasa bisa memberikan masukan serta kritik agar penguasa sejalan dengan semangat Islam? Bukankah juga di masa kekhalifahan banyak ulama yang dekat penguasa dengan tujuan memberi nasehat dan mengingatkan? Lihatlah misalnya seorang ulama bernama Salamah bin Dinar, yang dekat dengan Sulaiman bin Abdul Malik salah satu Dinasti Umayyah. Ketika bersama Salamah, Sulaiman berkata, “sesungguhnya, hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya.”

Kesimpulan, tidak benar klaim bahwa suatu masa akan ada penguasa yang jauh dari Al-Qur’an, dan itu terjadi pasa masa kini. Apa yang disampaikan oleh Ahmad Zaen dalam ceramahnya hanyalah hadis palsu, untuk memprovokasi umat, yang itu amat dilarang di dalam Islam. Entah apakah Ahmad Zaen ini paham tentang ilmu kritik sanad dan matan sehingga seharusnya ia menelaah terlebih dahulu latar belakang hadis yang disampaikannya. Sebab menyampaikan hadis palsu kepada umat sama saja dengan berbohong mengatasnamakan nabi kepada umat. Selain itu, khilafah di masa empat khalifah pasca Rasulullah tidak sama dengan khilafah HTI dan ISIS. Khilafah masa khulafa Al-Rasyidun memimpin untuk kepentingan umat, sedang HTI dan ISIS murni karena politik dengan menumpangi agama. Dan, ulama boleh saja, bahkan harus jika perlu untuk dekat pemerintah, tujuannya agar mereka bisa terus menasehati penguasa dan agar roda kepemimpinan yang dijalankannya tidak melenceng dari tujuan agama. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!