Baim Wong, Khilafaters dan Perorganisasian Netizen

6
1736

Oleh: Makmun Rasyid (Pengamat Hizbut Tahrir Indonesia)

Sangkhalifah.co — Selebiriti Baim Wong sempat menjadi perbincangan netizen. Penulis pun sempat geram melihat kasus ini. Sebabnya, Baim Wong tampak tidak memiliki pendirian. Demi mempertahankan ‘fans’-nya, dia rela menjadikan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi penceramah dalam acara keluarganya (begitu berita yang tersiar). Parahnya lagi, dia menutup kolom feed Instagram saat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Presiden Joko Widodo. Sedangkan foto bersama dua aktivis HTI Felix Siauw dan Fatih Karim—inspirator Felix—menganga lebar.

Begitu labilnya, caption “Selamat ulang tahun Pak Jokowi! Presiden terbaik pilihan saya di era sekarang. Humble, enggak sombong, pekerja keras, dan yang terpenting mengenal agama dan takut sama Allah” dipersingkat menjadi “Selamat ulang tahun Pak Presiden”. Sebagai publik figur, yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kegagahan menyakini bahwa para khilafaters secara ideologi berbahaya untuk keutuhan bangsa dan negara. Bukan gagah menampilkan dan menayangkan ceramahnya di feed instagram.

Dua aktivis HTI memanfaatkan momentum ini. Karena caption dan foto mereka akan diolah oleh para khilafaters sebagaimana lazimnya mereka. Baim Wong pada posisi ini menjadi korban dari pengorganisasian netizen yang terafiliasi dengan HTI dan para pembenci presiden. Foto Baim Wong pun muncul di feed Felix Siauw dengan narasi motivasi ala FS seperti biasanya—disertai dengan tagar #radikalisromantis #persekusi (apa maknanya?)—dan Fatih Karim dengan caption pujian-pujian. Inti keduanya sama: melunakkan dan menggugah hati Baim Wong agar simpati padanya.

Baim Wong yang belakangan dikenal gemar berbagi kepada siapa, tentunya mendapat lirikan tajam dari kelompok HTI. Felix Siauw dan Fatih Karim dikenal dua aktivis yang narasi-narasinya cukup membius bahkan terselip dalam berbagai narasi-narasinya teori hynowriting; sebuah teori mempengaruhi orang melalui sugesti yang ada dalam tulisan. Hynowriting termasuk kategori waking hynosis; cara melakukan hipnotis seseorang tanpa menidurkannya. Dalam konteks ideologi, seseorang yang terhipnotis akan ‘mengubur’ (sementara waktu) memori kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pelaku. Baim akan secara otomatis menyingkirkan persepsi bahwa organisasi dua aktivis HTI itu resmi dibubarkan oleh pemerintah dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Felix secara khusus.

Walaupun Baim Wong menjadi korban dan ‘target’—termasuk artis lainnya. Penulis sering mengatakan bahwa salah satu target utama dari aktivis-aktivis khilafah adalah orang-orang baik yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Mereka akan mudah membius dengan ragam dalil-dalil agama. Bermula dari pendekonstruksian tatanan keimanannnya, beranjak ke hijrah dan berakhir dengan militan menyebarkan paham khilafah.

Jika kita flasback, dalam suasana Pilpres 2019, masyarakat terbagi ke dua kubu; Jokowi atau Prabowo. Tidak ada alternatif ketiganya. Salah satu kaum sakit hati saat ini adalah kelompok HTI; walau sebenarnya gejala ini bisa dilihat dari ditinggalkannya oleh Yusril Ihza Mahendra. Beruntunglah YIM tidak berlama-lama membela HTI, disamping YIM juga keok-keok menghadapi argumentasi pro-pemerintah di kasus pembubaran HTI, khususnya argumentasi dari Yudian Wahyudi—yang kini menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

HTI berharap kala itu, Prabowo menang. Namun di persimpangan jalan, asumsi masyarakat bahwa Prabowo tidak akan masuk dalam kabinet kerja Jokowi-Makruf Amin terbantahkan. HTI lagi-lagi melepas rasa simpati pada Prabowo. Salah satu cara HTI adalah menjadi penumpang gelap dan berselancar di sana-sini dan membangun sistem yang terstruktur dan massif untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi.

Hingga saat ini—sejak didirikannya Hizbut Tahrir oleh Taqiyuddin Al-Nabhani, organisasi HT/HTI tidak pernah dimasukkan dalam kelompok moderat oleh para ahli terkemuka. Penulis sendiri memasukkannya ke dalam kelompok “radikalisme religius”. Kelompok jenis ini, sangat mirip dengan yang digambarkan oleh Yusuf Al-Qardhawi tentang “Ekstrimisme Religius”. Kesamaannya terletak pada tiga aspek, yaitu: ghuluw (melampaui batas; salah satu contohnya soal kenegaraan), tanattu’ (berlebihan dan keberagamaan yang terlalu ketat) dan tasydîd (kekauan).

Dalam Islam misalnya, kelompok yang bercirikan tanattu’ menurut Yusuf Al-Qardhawi akan berkonsekuensi pada kegagalan total dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana sindiran Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Muslim, kehancuranlah bagi mereka yang berpuas diri dalam tanattu’ (Hadis). Wujud utama dari kelompok “radikalisme religius” adalah rigidity (kekakuan) yang menutup pandangan seseorang untuk memahami kepentingan orang lain, Maqâsidh Al-Syarî’ah dan kondisi-kondisi zaman.

Dalam konteks HTI, hal tersebut terlihat dari narasi pendiri Hizbut Tahrir tentang orang-orang yang tidak terlibat dalam perjuangan khilafah dikategorikan berdosa besar. Dari konsep inilah, kemudian para aktivis HTI akan menuduh dan ‘mengutuk’ orang lain yang berbeda pandangan soal khilafah (tidak wajib) dengan narasi-narasi seperti: berdosa, murtad, kafir, tidak berhukum dengan hukum Allah, mungkar. Seakan-akan wasiat pendiri dan amirnya (pemimpinnya) ma’sum dan tampak seperti firman. Sikap tersebut tentunya, sebagaimana pernyataan Yusuf Al-Qardhawi menyalahi konsensus umat Islam, dan dalam konteks keindonesiaan menyalahi konsensus kebangsaan.

Seharusnya Baim Wong bisa memilih selebgram—karena keduanya (Fatih dan Felix) belum cocok disebut “ustadh”—untuk menenangkan netizen. Penulis sampai detik ini belum menemukan argumentasi Baim yang kokoh; mengapa memilih dan menerima keduanya (?). Mungkin ada yang berkilah, keduanya kan tidak berbicara politik dan lebih-lebih khilafah. Penulis menjawab, dalam proses pencobaan, mereka tidak akan langsung menembak objek tertentu dengan menawarkan gagasannya.

Ceramah dan dialog keduaya kemarin adalah “basi-basi” dari apa yang sebenarnya ingin ditawarkan kepada Baim. Sebagai pecinta Indonesia, jangan biarkan Baim Wong menjadi target pecinta Khilafah Tahririyah. Kita selamatkan Baim dari pengorganisasian netizen yang dilakukan aktivis-aktivis HTI. Kita harus mengajak dan memberitahu Baim bahwa seharusnya dia belajar dan mendengar urusan keagamaan dari yang ahli dan telah mendapat legitimasi masyarakat secara luas. Jangan biarkan Baim jatuh ke tangan pegiat Khilafah Tahririyah yang secara kenegaraan berbahaya dan secara keagamaan tidak memiliki legitimasi dalil yang kokoh. []

6 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!