Bahaya Laten Radikalisme Bagi Masa Depan Pendidikan Indonesia

0
518

Sangkhalifah.co — Sebuah bangsa memerlukan ideologi untuk mempersatukan keragaman dan perbedaan yang ada di dalamnya. Bangsa Indonesia memiliki Pancasila sebagai sebagai ideologi yang terbukti mampu menyatukan keragaman masyarakatnya yang multikultural dan multiagama. Namun akhir-akhir ini bermunculan ideologi yang tak jelas kelamin dan dari mana asalnya menyeruak di tubuh bangsa. Media sosial menjadi salah satu alat mengkampanyekannya. Ialah radikalisme, faham radikal yang muncul di tengah keragaman bangsa. Bersemayam di musim perpolitikan Indonesia baik Pilkada maupun Pilpres, ideologi radikal muncul memanas-manasi demokratisasi pemilihan pemimpin dengan bumbu agama. Agama dijual-belikan di atas kotak suara. Atas nama Tuhan kelompok berideologi mencaci dan tebar perpecahan di sana sini.

Perkembangan media sosial dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok dengan ideologi ini. Sontak jika kemudian banyak anak-anak muda yang ‘buta agama’ tersesat masuk di dalamnya. Berawal dari ketidaktahuan borok dan buruknya ideologi radikal, tidak sedikit generasi bangsa Indonesia yang terjatuh di lubang nestapa gerakan radikal. Mereka menjadi sok tau agama. Bahkan pula selalu merasa benar sendiri dan menganggap salah kelompok lain yang tidak sekeyakinan. Jargon kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dipahami serampangan hanya untuk menebar teror dan ketakutan. Di tangan kelompok teror dan radikal ini agama menjadi menakutkan. Dampak negatifnya, banyak orang menjauh dari Islam, takut akan eksistensi Islam di negerinya.

Ideologi radikal kini sudah masuk di wilayah pendidikan. Dari mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Nur Khamid, Cendekiawan IAIN Salatiga menyebut mereka membuat kurikulum sendiri. Mereka melarang anak-anak bernyanyi lagu-lagu kebangsaan. Mereka menganggap lagu-lagu kebangsaan sebagai lagu kemusyrikan dan harus diganti dengan bacaan-bacaan Islam. Anak-anak sekolah Tingkat Dasar (SD) juga dikarang untuk menggambar. Mereka diminta untuk berhati-hati dengan orang di luar Islam dan harus membencinya. Bahkan jika mereka berada dalam pendidikan keislaman, mereka akan dikarang untuk bergaul dengan anak-anak yang berpendidikan di sekolah umum. Selain itu mereka juga didoktrin tidak boleh menggambar karena dianggap sebagai perbuatan dosa yang hanya akan mengundang siksa.

Pendidikan di sekolah-sekolah tingkat dasar yang sebelumnya menerapkan pedagogig berubah menjadi ekslusif. Aspek psikomotorik dan afeksi dikesampingkan oleh guru dan bahkan lembaganya sehingga melahirkan out put lulusan yang egois, asosial, dan susah bergaul. Pendidikan yang disusupi oleh ideologi radikal menjadikan lulusannya anak-anak yang radikal, intoleran, dan sulit beradaptasi dengan lingkungan. Lebih parah lagi, pendidikan yang dimasuki kelompok radikal melemahkan nasionalisme pendidikan. Anak-anak didoktrin untuk tidak ikut upacara bendera dan menganggap hormat pada bendera adalah sebuah kesyirikan. Selain itu bahkan sekolah-sekolah yang demikian hanya mau menerima siswa yang orang tuanya masih satu paham, yaitu paham radikal.

Indonesia adalah negeri yang beragam, baik suku, ras, bahasa, bahkan agama. Jika ideologi radikal yang eksklusif terus didengungkan pada anak-anak didik tidak menutup kemungkinan akan lahir atmosfir umat Islam yang menakutkan dan dijauhi sebagaimana Islam di Timur Tengah dengan wajah kelompok teror. Afeksi golongan atas nama agama digelontorkan untuk menumbuhkan semangat jihad peperangan. Pendidikan yang terorganisir dengan kelompok radikal berakhir pada lahirnya output yang memaksa agar Indonesia dirubah menjadi negara Islam. Pancasila dianggap taghut sebab tidak disebut dalam Al-Qur’an. UUD diklaim sebagai undang-undang kufur yang harus dijauhi oleh anak bangsa. Negara akan rapuh dimakan rayap radikal yang terus merongrong melalui pendidikan yang menjadi gambaran masa depan bangsa.

Peran pemerintah dan masyarakat moderat untuk menyudahi ideologi radikal di ranah pendidikan amat sangat penting. Pemerintah perlu introspeksi sejauh mana telah memperhatikan pendidikan khususnya tentang masuknya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Islam. Kebijakan pemerintah harus tegas yang mengarah kepada misi Pancasila dan UUD yaitu memberikan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa. Tokoh agama juga tidak kalah penting untuk membangun suasana yang kondusif dari gerakan radikal di tingkat pendidikan. Khusus bagi agawa Islam, harus memberikan pendidikan yang persuasif tentang inti dari ajaran agama Islam, yaitu rahmatan lil alamin (QS. Al-Isra Ayat 17). Islam memiliki ajaran amar ma’ruf nahi mungkar yang menolak perbuatan zalim sebagaimana dilakukan kelompok radikal yang menganggap kufur model pendidikan bangsa dengan aturan dan undang-undangnya.

Diakui atau tidak pendidikan yang berafiliasi kepada kelompok radikal menjamur di mana-mana, baik yang terang-terangan maupun yang tertutup. Sebagian berafiliasi kepada gerakan Ikhwan Al-Muslimin sebagian yang lain kepada Wahabi di Arab Saudi. Ditambah dengan masuknya guru-guru yang memang memiliki misi untuk mendoktrin anak-anak Indonesia dengan ideologi radikal sebagaimana di atas sudah dipaparkan. Mereka telah banyak yang berafiliasi ke HTI dan juga FPI. Tugas para pemuka agama ialah memberikan pendidikan secara formal ataupun non formal yang mengacu kepada kecintaan pada Islam dan pada bangsa. Elemen pemerintah membuat kebijakan yang dapat meminimalisir dan memberangus gerakan yang membahayakan bagi pendidikan Indonesia di masa depan itu. Dan elemen yang lainnya melakukan kontranarasi melalui media-media sosial sebagai perlawanan ideologi kekerasan menggunakan ideologi yang mengedepankan kerahmatan. []

*Lufaefi, Pimred Media Sang Khalifah

Leave a reply

error: Content is protected !!