Awas! Provokasi Atas Nama Palestina Kembali Muncul

1
162

Sangkhalifah.co ― Kemarin (18-19/7), secara serempak story beberapa teman saya di WA menampilkan Google Maps dengan pencarian Negara Palestina yang tidak ditemukan lagi saat ini. Dalam Maps tersebut diperlihatkan daerah yang semestinya tertulis nama Palestina telah berganti menjadi Israel.

Namun yang menjadi problem dan perhatian disini ialah ketika narasi yang dibangun oleh kelompok-kelompok tertentu, mengandung kalimat provokatif. Misalnya yang saya baca, “Islam sudah dilecehkan, ayo kita bangkit!”, “Lihatlah saudara muslim kita disana, mereka ditindas oleh Israel laknatullah itu. Jihad adalah jalan satu-satunya untuk melawan mereka!”, dan sebagainya.

Narasi provokatif yang ditampilkan sungguh sangat memprihatinkan dan meresahkan sebagian masyarakat. Ada yang memahami, itu hanyalah sebagai kalimat biasa yang tak perlu dihiraukan. Namun ada juga yang menerimanya dengan serius, sehingga kebencian pada Israel dan non-islam lainnya semakin membesar.  

Sebenarnya berita hilangnya Palestina dari Google Maps di media sosial bukanlah hal yang baru. Pada Agustus 2016, situs daring theguardian.com telah merilis tentang hilangnya Palestina dalam peta dunia. Pihak Google pun mengkonfirmasi bahwa hilangnya palestina dari Maps karena sampai sekarang tanah disana masih dianggap sebagai tanah sengketa. Saat ini berita tersebut kembali dimunculkan ditengah hangatnya isu agama yang semakin tak karuan.

Kemunculan kembali narasi diatas sangatlah berbahaya bagi orang yang tidak memahami sejarah bagaimana konflik antara Israel-Palestina itu lahir. Jika ada nama Israel-Palestina, seakan-akan yang ada dibenak mereka adalah penindasan orang-orang kafir terhadap Islam. Memang ada banyak kelompok-kelompok yang memunculkan narasi semacam itu.

Israel-Palestina, Benarkah Murni Konflik Agama?

Lalu benarkah konflik tersebut murni atas nama agama? Dan benarkah disana merupakan penindasan terhadap islam? Konflik tersebut bukan lagi berbicara masalah agama, tapi sudah berbicara masalah kekuasaan wilayah!

Dalam sejarahnya, sebagaimana dilansir dari matamatapolitik.com, awal mula konflik Israel-Palestina memanas pada 1947, ketika PBB membagi kekuasaan wilayah yang diperebutkan menjadi tiga bagian, satu untuk orang Yahudi, satu untuk orang Arab, dan rezim perwalian internasional di Yerussalem.

Kesepakatan itu ditolak oleh orang-orang Arab, mereka mengatakan bahwa PBB tidak punya hak untuk membagi dan mengambil hak milik tanah mereka. Akhirnya, perangpun tak bisa dielakkan lagi.

Pada 1948, perang Arab-Israel begitu tragis. Tercatat sebesar 700.000 warga Palestina melakukan “Nakbah” atau yang dikenal dengan malapetaka, yakni meninggalkan tempat pemukiman secara massal. Tapi ada juga warga Palestina yang masih tinggal di Israel. Dan tuntutan utama warga Palestina pada perundingan damai adalah hak untuk kembali ke tempat tinggal yang mereka tinggalkan pada 1948. Dalam salah satu media, Tirto.id menyebutkan, Perang 1948 menjadi bagian sentral dari rentetan konflik yang terjadi sampai saat ini.

Sejarah sangat perlu untuk disandingkan dengan isu yang muncul hari ini, karena setiap sesuatu pasti ada akarnya dan buahnya tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Sebagaimana isu Palestina yang dimunculkan lagi saat ini. Menurut sebagian masyarakat, dalam konteksnya, bahwa nama Palestina merupakan pengejawantahan dari simbol islam  yang dibantai serta didzalimi dan Israel adalah simbol dari orang-orang kafir yang membantai umat islam. Pemahaman semacam ini tentu perlu diluruskan. Karena bisa menjerumuskan sebagian orang pada ranah intoleransi beragama.

Dr. Gil Merom, pakar keamanan internasional dari University of Sydney juga menegaskan kepada SBS News bahwa konflik Israrel-Palestina tersebut tentang wilayah. “Ini adalah konflik tentang wilayah, sesederhana itu.”

Menunggangi Agama Untuk Kepentingan Tertentu

Abdurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia mengatakan, suatu hal yang mengatasnamakan agama memang akan selalu laris jika ditunggangi untuk kepentingan tertentu. Kalimat itu tak pernah layu oleh waktu, karena saat ini, sebagai warga Negara Indonesia, kita rasakan sendiri bagaimana selalu disuguhi dengan isu-isu yang mengatasnamakan agama demi sebuah kepentingan. Apalagi konflik Israel-Palestina adalah perang besar yang tak pernah terselesaikan. Maka tak heran jika narasi propaganda terhadap islam juga ikut dilibatkan untuk menggalang dukungan yang lebih besar.

Padahal, jika berbicara masalah islam, di Israel penduduk muslim juga termasuk kuat, mencapai 18%.  Bahkan kepada media Liputan 6, seorang militer Israel mengatakan bahwa dia seorang muslim, tapi siap membela negaranya. “Saya adalah seorang Arab, saya juga seorang Muslim. Saya mencintai Negara saya dan siap mati membelanya,” ujarnya.

Selain itu, umat muslim di Palestina memang mayoritas, tapi bukan berarti tidak agama lain didalamnya. Ratusan warga Kristen juga menjadi bagian dari penduduk di Palestina. Tahun lalu, Israel mempersulit izinnya, ketika warga Kristen di Palestina yang ingin mendatangi kebaktian hari Paskah di Yerusalem dan Betlehem. Hal itu sebagai salah satu bukti bahwa konflik di Palestina ini bukan lagi atas nama penindasan pada islam, tapi sudah pada ranah kekuasaan.

Barangkali jika masyarakat yang tidak mengetahui fakta-fakta ini, menganggap bahwa Israel tidak suka pada islam dan mereka telah membantainya. Padahal bukan hanya islam yang merasakan kekejaman Israel, tapi juga agama lain. Dan pemahaman tersebut sudah salah kapra. Islam hanya dijadikan kambing hitam oleh kelompok-klompok tertentu sebagai alat untuk membenci orang-orang Israel. Bahkan orang yang tidak memahami sejarahnya akan langsung beranggapan bahwa selain islam adalah kafir dan wajib diperangi. Bukan hanya itu, sentimen keagamaan akan semakin melebar dan ruang intoleransi beragama akan terbuka. Dampaknya akan sangat terasa bagi seluruh elemen masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia, yang sudah sejak lama hidup berdampingan dalam keragaman beragama.

Agama memang sangat ampuh untuk membangun dan membangkitkan semangat juang demi kemerdekaan. Misalnya, Indonesia berhasil melawan penjajah dengan semangat keagaamaan, yang dikenal dengan Resolusi Jihad, Hubbul Wathan Minal Iman yang diprakarsai oleh ulama Nahdhatul Ulama. Tapi ingat, dalam sejarah perjuangannya, meskipun menggunakan agama sebagai semangat juang, tidak sekalipun menggunakan nama agama untuk menumbangkan agama yang dianut oleh penjajahnya sendiri. Bahkan, Belanda sebagai penjajah paling lama di Indonesia dan menganut agama Kristen, tidak lantas setelah merdeka, menumpas habis agama mereka juga. Seperti yang kita lihat saat ini, Kristen malah menjadi agama mayoritas kedua yang dianut oleh penduduk Indonesia.

 Ujaran kebencian yang terus digaungkan pada Israel dengan mengatasnamakan agama, bukan lagi salah kapra, tapi sudah salah alamat. Agama islam memang sangat melarang penindasan, tapi cara menyelesaikan bukanlah dengan caci maki dan membalas dengan penindasan pula. Masalah Negara tentu dengan cara-cara yang diatur dalam bernegara juga. OKI sebagai organisasi islam dunia telah mengadakan perundingan dengan menggalang dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Dan ingat, dalam organisasi itu pun tidak ada umpatan atau ujaran kebencian yang disematkan pada Negara yang mereka anggap telah mencederai Negara lain. Tinggal kita tunggu saja hasilnya bagaimana dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Selanjutnya, sebagai manusia yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan, sangat perlu untuk turut berduka cita dan mendukung perjuangan warga Palestina untuk merdeka. Tapi sebagai umat muslim yang baik pula, kita dituntut untuk toleransi antar umat beragama dan tidak saling menebar kebencian serta penghakiman sendiri. Dalam surah al-Hujarat (11), sangat jelas Allah melarang umatnya untuk saling mencela antar manusia dan antar kelompok. Karena belum tentu yang dicela lebih buruk dari yang mencela. Jika ada suatu permasalahan, jangan langsung dikaitkan dengan agama. Namun perhatikan dulu latar belakang masalahya. Agar sesama umat manusia dan umat beragama tidak gampang terprovokasi dan diadu domba oleh orang-orang yang punya kepentingan tertentu. [DD]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!