Arwah Khilafers Masih Gentanyangan di Indonesia

4
659

Sangkhalifah.co Secara kelembagaan, HTI telah dibubarkan dan dinyatakan organisasi terlarang. Namun kaum khilafers masih gentayangan di Indonesia. Mereka bukan kendor memasarkan sistem Khilafah Tahririyah, justru semakin kencang. Fanatisme terhadap gagasan Taqiyuddin Al-Nabhani seperti tidak ada obatnya. “Propaganda mereka semakin masif dan beringas belakangan ini”, ditambah “propaganda mereka disertai narasi-narasi kebencian yang menjurus fitnah, terutama yang paling sering jadi sasaran adalah kalangan Islam moderat, pesantren dan NU”. Demikianlah catatan penerbit buku Kontra Narasi Melawan Kaum Khilafaters yang ditulis oleh Ainur Rofiq Al-Amin, mantan Hizbiyyin.

Narasi “tegakkan Khilafah” bergentanyangan di akun-akun resmi dan robot milik HTI. Keberanian kaum Khilafaters ini memang dikenal hanya di tatanan media sosial. Ainur Rofiq, misalnya mencatat, pada saat Muharram 1441/September 2019 mereka ramai-ramai menggelorakan tagar “tegakkan Khilafah” sebagaimana instruksi elit HTI. Namun apa sambutan masyarakat, mereka justru mendapatkan bullying. Ibarat bermain catur, elit HTI terkena skak. Kaum Khilafaters diminta tidak saja mengkritisi pemerintah, tapi diminta untuk turun mengatasi separatisme dan kerusuhan yang terjadi di Papua. Bukan HTI kalau tidak pandai ngeles. Elitnya mengatakan bahwa itu kan tugas pemerintah. Sudah biasa!

Jurus ngeles tidak saja dipraktikkan oleh anak-anak kecil, tapi juga profesor yang tergabung di HTI. Meminjam istilah Ayik Heriansyah, “profesor masuk ke HTI jadi bodoh; orang bodoh masuk ke HTI berlagak pintar”. Jika dicermati, benar adanya ungkapan tersebut. Sebut saja Suteki, seorang profesor yang didepak dari lingkungan kampusnya dan circle-nya. Dengan bermodal pekerjaan sebelumnya yang mengampu “Filsafat Pancasila”, ia ‘mengakali’ kaum Khilafaters dengan perspektif-perspektif yang disebarkannya. Ditambah kelompok HTI masih membutuhkan profesor-profesor untuk bertarung di wilayah ghazwul fikr. Maka siapapun dia, yang penting gelar akademik ada, diambil dan dijadikan alat tempur. Sebab itu, strategi mereka dalam mengakali masyarakat dengan “menakuti” gelar yang disandang.

Tertawa sambil mengelus dada, mungkin itu yang dirasakan Ainur Rofiq saat membahas “Suteki: Saksikan Film Jejak Khilafah”. Ainur menuliskan, “saksikan atau sangsikan ya untuk film itu?”. Sungguh beralasan pertanyaan Ainur tersebut. Mengapa? Sebab sekelas profesor mau di-kelabui anak yang belum lulus S1. Narasi-narasi di film JKDN itu tidak memiliki legitimasi kesejarahan yang akurat.

BACA JUGA:

Ainur menuliskan, “sudah sering saya sampaikan, bila ada jejak Turki Usmani di Indonesia, lalu mengapa? Banyak jejak penguasa mancanegara ke Indonesia mulai dari Barat, Timur Tengah hingga Jepang, Mongol, India dan lain-lain. Jejak bukan sebagai dalil, sekali lagi, jejak bukan sebagai dalil atau perintah wajib bahwa kita harus mengubah NKRI menjadi Khilafah.”

Tapi apalah daya seorang profesor. Jika tidak mengais popularitas dan rejeki di HTI, kemana hendak ia berlabuh. Kadung stempel profesor HTI. Ibarat memancing, Suteki sudah terkena pancing dan sulit lepas, kecuali ada kolam baru yang mewadahinya.

Tidak saja Suteki, profesor pemuja Khilafah tapi sok tidak menjadi bagian HTI. Ada juga yang bernama Gus Nawawi Pasuruan. Bermodal narasi “Tabayyun ke Felix Siauw”, ia menghipnotis orang-orang. Tapi jejak digital memang kejam. Ainur Rofiq dkk menulis di media sosial, “Mengkritik Gus Baha, Memuji Felix”. Bayangkan, orang yang dikritik tidak sepadan dengan yang mengkritik (Nawawi) dan dipuji (Felix). Orang tabayyun itu menyimpan sikap kritis di dalamnya. Berbeda dengannya—menurut Ainur Rofiq, “Nawawi ini sama sekali tidak melakukan kritik, tapi malah mengapresiasi penuh terhadap Felix. Beda saat di Youtube tayang 15 Juli 2020, dia cenderung ‘mencari kesalahan’ Gus Baha”.

Tidak saja mereka berdua di media sosial yang malu-malu mendukung perjuangan HTI. Masih banyak! Disamping framing “kelas teri” yang dilakukan kaum khilafaters. Framing tokoh agama pun sering dilakukan elit dan aktivis HTI. Ainur menyebut, misalnya Prof. A. Zahro, yang masih saudaranya. “Saya memastikan bahwa Prof. A. Zahro tidak mau mengganti NKRI dengan khilafah seperti yang digemborkan oleh khilafers.” Demikian tegas Ainur Rofiq.

Dibandingkan HTI, memang harus kita akui. Kelompok Syiah dan Ahmadiyah lebih gentle dalam soal kepemimpinan dan kekhalifahan. Syiah dan Ahmadiyah membangun legitimasi dan konstruksi sendiri. Mereka enggan men-caplok dan bergaya seperti HTI yang caplok sana-sini untuk mendukung gerakan mereka. Ainur menyebutkan, “mereka (Syiah dan Ahmadiyah, pen) membuat formulasi sendiri tanpa harus mencari pembenar dalam kitab kuning tau sejarah Walisongo sekadar sebagai legalitas palsu dan menipu kaum lalu harapannya bisa menjadikan warga NU menjadi anggota mereka.”

Strategi lainnya yang dipaparkan Ainur bisa kita baca pada tulisan “Membaca Gelagat Khilafers Datang Ke Tokoh NU”. Setidaknya ada empat yang perlu diperhatikan, yakni: pertama, kiai-kiai NU menerima siapapun yang datang, termausk HTI. Namun HTI memanfaatkan kondisi ini. Kedua, kaum khilafers yang terbuka pikirannya (mau berubah) akan datang secara sembunyi-sembunyi atau tertutup dan tidak mengeksposnya. Mereka ini gamang dan bimbang akan realisasi doktrin Khilafah Tahririyah ala Taqiyuddin Al-Nabhani.

Ketiga, mereka ada yang datang rombongan dan mengekspos. Mereka ini memiliki kepentingan terselubung. Salah satunya, yang biasa mereka lakukan di media sosial adalah menggiring masyarakat untuk percaya bahwa kiai yang di-sowani mendukung gerakan dan pemikiran Khilafah Tahririyah. Strategi ini sering dilakukan oleh elit HTI disamping menggunakan label keluarga NU atau NU 200 karatan.

Bagaimana mereka menyakinkan pembaca bahwa NU yang benar itu memperjuangkan Khilafah, padahal NU dan PBNU memahami Khilafah Islamiyah dan realisasinya tidak sama dengan perspektif HTI. Buku yang ditulis oleh Ainur Rofiq Al-Amin ini sungguh membuka wawasan dan pikiran kita untuk memahami strategi, gelagat dan trik-trik yang sering digunakan HTI dan kaum khilafers yang malu-malu mengungkapkan jatidirinya di media sosial. []

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!