Antisipasi Paham Radikal di Kalangan Pemuda dan Perempuan

0
453

Sangkhalifah.co — Adanya keterlibatan paham radikalisme dan terorisme pada generasi muda dan perempuan menguat sejak kelompok radikal ISIS eksis di Indonesia. Sebelumnya pada saat kelompok radikal di Indonesia oleh Al-Jamaah Al-Islamiyah, anak-anak dan perempuan dilarang untuk ikut andil di garis depan. Akan tetapi ISIS justru memanfaatkan generasi muda dan perempuan untuk ikut dalam aksi terorismenya.

Hal ini dimanfaatkan mereka karena generasi muda dan perempuan tidak akan dicurigai lebih jika melakukan teror. Generasi muda merupakan incaran utama dalam pergerakan mereka. Jika sudah terkontaminasi maka semangat juang yang digaungkan sangat kuat dan militan. Sedangkan perempuan dengan modal perasaannya, mampu menaklukkan lawan dan akan menjadi sosok pemberani terhadap sesuatu yang dianggap oleh dirinya benar.

Melihat kebelekang mengenai kasus-kasus yang melibatkan generasi muda dan perempuan, seperti rencana aksi bom panci ke Istana yang berhasil digagalkan (Desember 2016), bom Sibolga (Maret 2019), teror terhadap Menkopolhukam Wiranto (Oktober 2019), bom Medan (November 2019). Data-data tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa generasi muda dan perempuan merupakan kelompok rentan yang menjadi target sasaran.

Ada enam tahapan proses seseorang menjadi teroris, menurut Fathli Moghaddam. Pertama, seseorang mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan yang tidak adil; kedua, seseorang membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persoalan tersebut dengan penyerangan yang dianggap sebagai musuh; ketiga, seseorang mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya.

Keempat, setelah seseorang memasuki organisasi teroris, hanya ada kemungkinan kecil atau bahkan tidak ada kesempatan untuk keluar hidup-hidup. Dan kelima seseorang menjadi siap dan termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan terorisme. Pada tahapan terakhir adalah tahapan dimana seseorang sudah berada pada puncak keyakinan untuk melakukan aksi teror.

Adanya perkembangan teknologi yang membuka akses kepada konten-konten radikal dengan bebas, menyebabkan generasi muda dan perempuan menjadi lebih mudah terpapar paham radikal. Pada era sebelumnya, virus radikalisasi dilakukan dengan tatap muka secara selektif, sembunyi-sembunyi dan memerlukan waktu cukup lama. Tapi saat ini radikalisasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, masif juga terbuka.

Fakta di atas pun didukung oleh tersebarnya paham radikal tersebar di media sosial dan mudah diakses tanpa sikap kritis. Generasi muda dan perempuan yang aksesbilitasnya terhadap informasi cukup kuat menjadi kelompok yang rentan untuk menerima paparan paham radikal.

Generasi muda dan perempuan yang dipermudah oleh adanya teknologi internat, diperlukan berbagai strategi oleh negara untuk mencegah perekrutan masif. Pemerintah seharusnya mempunyai mekanisme untuk menutup konten-konten radikal di internet agar tidak bisa diakses masyarakat. Namun tindakan tegas sangat dibutuhkan masyarakat guna meminimalisir paham yang tidak sesuai Pancasila dan kebhinekaan kita bersama. [Syfa Fauziah]

Leave a reply

error: Content is protected !!