Amanah Perdamaian dalam Insiden Jihad Islam

0
381

Sangkhalifah.co — Agama Islam dikenal sebagai agama yang lahir sebagiannya karena adanya jihad yang dilangsungkan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya. Banyaknya ayat-ayat jihad dan qital dalam Al-Qur’an menjadi satu dari bukti akan adanya peperangan di masa Rasulullah 14 abad silam. Pembahasan tersebut dalam Qur’an ada sekitar 105; ayat-ayat jihad dan qital dalam Al-Qur’an. Fakta ini yang menjadi dalil bagi kelompok teror dan radikal untuk melandasi tindakan kekerasan dan bom bunuh diri sebagai bentuk dari peperangan melawan orang non-Muslim. Orang-orang yang belum mendapatkan hidayah memeluk agama Islam dipaksa dan diintimidasi untuk segera mungkin masuk dan tunduk pada Islam. Parahnya lagi, dengan fakta ini mereka menyerang dengan brutal setiap pemerintah yang dianggap tidak menerapkan syariat Islam dalam menjalankan tampuk kekuasaannya.

Apa yang diklaim kelompok teror dan radikal tidak sedikitpun benar. Islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) (QS. Al-Isra: 17). Ada banyak miss perception kelompok teror dan radikal dalam membaca fenomena ayat-ayat jihad dan peperangan dalam Islam, yang itu justru bertentangan dengan semangat Islam sebagai agama damai. Mengapa Islam bukan agama perang tetapi ia agama damai? Mengutip pendapat Quraish Shihab, ayat Al-Qur’an pertama yang mengizinkan umat Islam berperang mempertahankan diri dari amukan orang Kafir baru turun setelah 15 tahun pasca kenabian dan 2 tahun setelah Nabi hijrah di Madinah. Berbeda dengan Shihab, Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan 22 tahun pasca kenabian. Artinya, selama waktu itu, Islam hanya menempa umat Islam dengan ajaran dan tindakan damai, bukan kekerasan.

Islam yang direpresentasikan oleh Nabi Muhammad adalah agama yang semuanya bernilai kebaijikan. Selama waktu 15 tahun atau 22 tahun itu para sahabat dididik dan digembleng bukan untuk berperang, apalagi untuk melukai kelompok lain. Selama waktu itu Rasulullah menempa para sahabat dengan akhlak dan akidah Islam yang bernilai kedamaian. Salah satu buktinya adalah ketika salah satu ayat Al-Qur’an yaitu QS. Al-Baqarah: 216 diturunkan. Allah berfirman: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Memahami ayat ini maka didapati makna bahwa sebetulnya para sahabat Nabi benci dengan peperangan. Mereka adalah orang-orang yang hati dan raganya sudah terlatih dan kokoh dengan nilai persatuan, kerukunan, dan perdamaian. Sehingga saat diizinkan berperang, sebagian besar mereka “sempat menolak”.

Lalu, kenapa kemudian umat Islam tetap menjalankan peperangan jika memang mereka benci dengan itu? Jawabannya satu, yaitu demi perdamaian. Sebab, tidak ada peperangan yang dilakukan oleh umat Islam kecuali hanya untuk mempertahankan diri ketika mereka diusir dari daerahnya atau mereka disakiti secara fisik secara bertubi-tubi. Lihat salah satu buktinya dalam QS. Al-Baqarah: 190 Allah berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Ayat ini jelas memberi kabar kepada kita bahwa orang Islam dahulu berperang bukan untuk menguasai atau memaksa orang lain masuk pada keyakinan atau agama tertentu, akan tetapi untuk mempertahankan diri dari perang yang dimulai oleh orang kafir. Kalaupun akan berperang, umat Islam dilarang untuk melampaui batas.

Kalimat dalam firman Allah yang menyebut peperangan tidak boleh melampaui batas patut menjadi perhatian dan catatan penting bagi umat Islam. Bahwa, ketika umat Islam terpaksa melakukan peperangan karena orang Kafir menyerang terlebih dahulu maka tidak boleh melebihi batas. Melebihi batas di sini menurut Quraish Shihab adalah melebihi batasan-batasan syarat jihad, seperti membunuh anak-anak, membunuh perempuan, merusak fasilitas umum, membuat keonaran, dan sebagainya. Ahli tafsir lulusan Al-Azhar Mesir tersebut juga menegaskan bahwa puncak dari melampaui batas dalam peperangan adalah memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinan agamanya. Oleh itu dalam QS. Al-Baqarah: 256 Allah berfirman: ” Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”.

Selain itu, klaim kelompok teror yang mengatakan bahwa qitâl dalam Al-Qur’an adalah sebuah peperangan yang bersifat opensif juga tidak sama sekali benar. Tidak lain, itu sebab ketidaktelitian dalam memahami Islam. Sebab dalam faktanya, ada banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang didapati kata “qitâl” tapi tidak bermakna peperangan. Dalam potongan QS. Al-Munafiqun: 4 Allah berfirman: “Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)” yang memiliki makna “siksaan Allah” atau dalam potongan Qs. al-Hujurat ayat 9 Allah menegaskan “dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” yang makna derifasi qitâl, yaitu iqtatalû adalah “pertengkaran”, bukan peperangan.

Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari artikel ini. Pertama, klaim bahwa Islam adalah agama perang, dengan dalil banyaknya ayat-ayat qitâl, adalah klaim yang lemah dan tak mendasar. Setiap ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang peperangan, selalu bermuara pada perdamaian. Tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintah umat Islam berperang terlebih dahulu tanpa didahului perang oleh orang Kafir. Kedua, jika pun umat Islam akan melakukan peperangan karena untuk mempertahankan keimanan atau karena diusir dari daerahnya, maka tidak boleh melampaui batas, seperti membunuh anak kecil, perempuan, dan memaksakan kehendak pada musuh untuk segera masuk Islam. Dan ketiga, Islam tidak lain kecuali agama kediaman. Karena pesan-pesan damai dalam Islam inilah yang membuat agama Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. []

Leave a reply

error: Content is protected !!