Al-Qur’an Melarang Mengolok-olok dan Merendahkan Agama dan Keyakinan Lain

0
298

Sangkhalifah.co — Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang juga sebagai cerminan kehidupan Rasulullah. Salah satu yang diteladankan Rasulullah melalui kitab suci ini yaitu terkait hubungan sosial di tengah masyarakat, seperti tidak mencela atau merendahkan agama dan keyakinan orang lain. Al-Qur’an menutut umat Muslim hidup bergandengan tangan dengan umat-umat agama yang lain, selama tidak untuk melakukan kebatilan. Selain itu sebab, Allah melalui Al-Qur’an-Nya pun tegas menyatakan manusia diciptakan di muka bumi dalam kondisi yang beragam, dari mulai laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, qabilah-qabilah, yang tujuannya agar saling mengenal (QS. Al-Hujurat ayat 13).

Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur’an,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-An’am: 108).

Syaikh Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaaf, menyebut alasan logis mengapa umat Islam dilarang untuk mencela pemeluk agama lain yang tidak menyembah Allah, yaitu karena akan merugikan umat Islam sendiri dengan diolok-oloknya ajaran dan eksistensi agama Islam. Maka sebab itu, Imam Al-Qasimi menyebutkan, selama ada kekhawatiran adanya celaan dari non Muslim kepada Allah, Rasul-Nya, maupun ajaran-ajaran yang dibawa oleh-Nya, maka selama itu pula umat Islam dilarang mengolok agama yang mereka anut. Penafsiran para ulama tafsir ini hakikatnya menunjukkan Islam sebagai agama yang bijaksana, mengajarkan akhlak-akhlak yang mulia kepada siapapun.

Kembali menegaskan, Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya (Tafsir Al-Quurthubi) juga menegaskan bahwa larangan mencaci maki agama lain merupakan larangan yang pasti dan mutlak. Tidak bisa larangan ini diganti dengan melakukan hal lain sebagai gantinya. Sehingga umat Islam dilarang untuk merusak salib dan atau gereja yang dimiliki oleh orang non Islam. Selain itu disebut dalam kitab Al-Asyabh wa An-Nadza’ir, bahwa perintah berdakwah kepada non Muslim memang suatu keharusan. Namun, perintah itu menjadi gugur manakala ada dampak buruk yang bisa ditumbuhkan jika tetap dilakukan. Artinya, dakwah kepada non Muslim untuk masuk Islam bisa menjadi gugur manakala ada kekhawatiran mereka mencela agama Islam. Allah SWT dalam ayat yang lain (Surat Al-Ankabut 46) juga berfirman:

وَلَا تُجَـٰدِلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُ إِلَّا ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ مِنۡهُمۡۖ وَقُولُوۤا۟ ءَامَنَّا بِٱلَّذِیۤ أُنزِلَ إِلَیۡنَا وَأُنزِلَ إِلَیۡكُمۡ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمۡ وَ ٰ⁠حِدࣱ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”

Syaikh Musthafa Al-Maraghi menafsirkan ayat di atas tentang larangan bagi umat Islam melakukan kekerasan secara verbal kepada Ahlul Kitab. Diperbolehkan melakukan debat kecuali jika dilakukan dengan cara-cara yang baik dan beradab. Menurutnya, redaksi “Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”, menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang toleran, menghargai agama dan pemeluk agama lain, karena hakikatnya, Tuhan mereka dan orang Islam satu, yaitu Allah SWT. Bila melalukan kekerasan secara verbal saja dilarang, sudah tentu kekerasan secara fisik lebih dilarang, termasuk melakukan bom bunuh diri yang berpotensi menimbulkan kekerasan.

Di zaman modern seperti sekarang, di mana masyarakat juga semakin berkembang, meneladani akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan dalam Al-Qur’an terkait tidak merendahkan dan meremehkan agama lain merupakan hal wajib. Lebih-lebih dalam konteks Indonesia yang dihuni oleh berbagai macam faham keagamaan, menghargai pemeluk agama-agama lain adalah perintah mutlak yang tak bisa diganti dengan apapun. Umat beragama di Indonesia, agama apapun, juga harus waspada dengan eksistensi kelompok ekstrim radikal yang memicu kelompok beragama melakukan permusuhan. Jangan mudah terbakar emosinya bila ada segolongan orang yang mengatasnamakan pembela agama tertentu, namun menghina agama di luar yang diyakininya. Sudah bisa dipastikan, orang yang demikian, tidak meneladani ajaran agama yang suci yang sesungguhnya. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!