Al-Quran dan Ide Perdamaian

1
446

Oleh: Fikrul Horri

Suatu hari, ada dua sahabat Nabi yang berselisih, keduanya adalah Abdullah bin Ubay dari Suku Aus dan Ibnu Rawahah dari Suku Khazraj. Keduanya adalah sahabat dari kalangan Anshar, akhirnya berselisih dan berakhir dengan main hakim sendiri. Dalam sebuah riwayat dalam kitab Tafsir Al-Thabari dari Sayyidina Anas keduanya saling pukul dengan pelepah kurma, tangan dan sandal. Peristiwa ini direspon Allah dengan turunnya surat Qs. Al-Hujurat [49]: 9.

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Setelah ayat sebelumnya (Qs. Al-Hujurat [49]: 9) Allah Swt mewaspadai dan menyeleksi terhadap kabar orang fasik. Allah memberi pengarahan dan penyelesaian terhadap konflik antara dua kelompok dari kalangan Anshar. Seakan Allah menjelaskan runtutan terjadinya pertengkaran. Dimulai tahap awal perselisihan: mendengar kabar yang tak benar adanya (hoaks) hingga tahap akhir: terjadinya kontak fisik.

Ketika sudah mencapai tahap akhir dari tahapan perselisihan Al-Qur’an memberi pedoman untuk meng-islah-kan (reparasi). Beberapa contoh praktik islah dalam ayat ini sebagaimana dijelaskan oleh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir adalah nasihat, memberikan pertimbangan dan menyelesaikan secara prosedur hukum.

Apa yang hendak disampaikan Al-Qur’an pada ayat ini? Jawabannya adalah ayat selanjutnya: orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Yang hendak disampaikan Al-Quran atau ide pokok dari ayat itu adalah ide perdamaian. Lafaz innama la-mukminuna ikhwah adalah merupakan tasybih baligh (penyerupaan yang berlebihan). Asal katanya innama la-mukminuna ka al-ikhwah (sesama orang beriman itu seperti saudara), namun karena tujuan dari tasybih baligh ini untuk berlebihan dalam menyamakan hubungan orang beriman dan hubungan persaudaraan maka adatut tasybih-nya (huruf kaf) dibuang. Seakan akan hubungan orang beriman dan hubungan persaudaraan tidak ada bedanya, dalam hal saling mengasihi dan menyayangi. Bukankah saling mengasihi dan menyayangi adalah langkah nyata dalam mewujudkan perdamaian? Jika jawabannya iya, masihkah ada yang berkeyakinan Islam mengajarkan kekerasan?

Dengan demikian, kekerasan bukanlah ajaran Islam, juga anjuran Al-Qur’an. Praktik kekerasan merupakan perbuatan oknum seorang penganut agama yang tidak mengerti, memahami dan menghayati ajaran agama dengan penuh kebijaksanaan. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!