Aktualisasi Peran Khalifah di Negeri Bhinneka

0
202

Sangkhalifah.co — Radikalisme dan terorisme merupakan akibat dari hilangnya cinta dan kasih dari hati manusia. Sebab, mengutip Fathullah Gulen, seorang Sufi kenamaan asal Turki, menyebut bahwa obat mujarab bagi fenomena radikalisme dan terorisme adalah cinta. Tanggapan Gulen ini lahir dari keprihatinannya terhadap fenomena radikalisme dan terorisme yang kian hari kian menjadi ancaman dunia. Keadaan ini paradoks dengan posisi Islam sebagai agama yang diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi semesta alam. Kenyataan ini berbalik fakta dengan posisi manusia yang diciptakan senagai Khalifah fil ardh yang dituntut untuk memberikan kedamaian dan ketenangan di muka bumi. Agama yang seharusnya ditampilkan dengan wajah mengayomi, di tangan kelompok radikal dan teror menjadi ajaran yang menakutkan.

Seluruh keturunan anak Adam adalah Khalifah di muka bumi. Mandat mulia ini tidak Allah tumpahkan kepada malaikat maupun makhluk lainnya, bahkan alam sekalipun. Mengapa demikian? sebab manusia adalah sebaik-baiknya makhluk yang dianugerahi akal dan pikiran. Disebutkan dalam Ensiklopedi Al-Qur’an, Khalifah sendiri mengandung makna kepala negara atau sultan dalam suatu pemerintahan. Selain itu Khalifah juga bermakna mandataris Tuhan yang diberikan wewenang untuk mengatur muka bumi dengan keberagamannya. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa kekhalifahan manusia di muka bumi memiliki tiga unsur, yakni manusia sebagai Khalifah, manusia sebagai alam, dan manusia dan hubungannya dengan alam semesta.

Penegasan Quraish Shihab yang juga ditegaskan oleh Baqir Shadr ini memberi isyarat kuat bahwa tugas manusia di muka bumi tidak lain guna menciptakan keseimbangan diri dan juga alam. Manusia memiliki amanah memberdayakan dan memelihara alam semesta dengan segala isinya, termasuk dirinya sebagai bagian dari kosmos. Selain itu, manusia sebagai Khalifah juga mengemban visi ilahiyah, insaniyah, dan kauniyah. Selain harus menjalankan kewajibannya mengaktualkan diri dalam bentuk pengabdian diri kepada Allah, manusia juga memiliki wewenang untuk menjalin sebaik mungkin dengan manusia lain dan bahkan dengan seluruh alam. Di sinilah fenomena radikalisme dan terorisme bertentangan 180 derajat karena memiliki ciri khas pemahaman yang keras/ekstri. kepada sesama manusia dan alam.

Baik radikalisme, terorisme maupun diskriminasi minoritas yang juga menjadi tantangan negeri Bhinneka hingga detik ini telah menciptakan kesenjangan sosial. Tindakan ini telah mencederai amanah Khalifah yang telah manusia dapatkan dari Allah SWT sebagai manusia yang harusnya menjaga harmoni antar semua makhluk. Jika kembali menggali nilai-nilai Khalifah dan Islam sendiri jelas-jelas seseorang tidak akan terjerumus pada tindakan teror dan radikal serta diskriminatif. Karena perilaku demikian tidak lain hanya akan membumihanguskan manusia dari alam semesta. Tindakan tersebut telah melenceng dari visi dan misi manusia yang telah diamanahinya sebagai pengatur muka bumi.

Dawam Raharjo menyebut bahwa peran paling utama manusia sebagai Khalifah fil ardh adalah sebagai penegak keadilan. Ia menegaskan bahwa keadilan yang harus diemban oleh Khalifah bermakna multi-dimensional, selain berkaitan dengan nilai-nilai kebenaran, juga berkait erat dengan sikap tidak merugikan orang lain. Sikap ini disebut-sebut juga sebagai keadilan ilahi. Dalam konteks negeri Bhinneka kita semua memiliki kewajiban mengaktualkan kembali nilai-nilai dan peran Khalifah dengan kemajemukan masyarakat di dalamnya, baik dalam sosio-kultural, sosio-politik, dan juga sosio-ekonomi. Semua itu menjadi salah satu usaha untuk meminimalisir radikalisme, terorisme dan diskriminasi yang seringkali lahir selain karena faktor pemahaman agama yang salah juga karena faktor sosial, politik, bahkan ekonomi.

Keadilan sendiri merupakan identitas dari kebenaran itu sendiri. Karena baik keadilan ataupun kebenaran keduanya merupakan perjanjian primordial antara manusia dengan Allah SWT. Itu sebabnya salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menegakkan keadilan seadil-adilnya dan menolak tindakan diskriminasi yang bisa merugikan orang atau kelompok lain. Mereka yang dapat mengaktualisasikan keadilan di tengah masyarakat akan terbebas dari tindak dan sikap radikal dan teror. Sebab keadilan juga dapat menciptakan suasana harmoni dan menolak aksi-aksi yang hendak merusak tatanan masyarakat Indonesia dengan keanekaragamannya.

Quraisy Shihab juga menegaskan selain nilai-nilainya keadilan, manusia sebagai Khalifah juga harus menjalankan amanahnya dengan mengaktualkan ukhuwah islamiyah. Menurut Quraish, ukhuwah ini tidak bermakna statis berupa hubungan antara seorang muslim dengan muslim lain, akan tetapi di dalamnya mengandung ukhuwah ‘ubudiyah (persaudaraan dengan seluruh makhluk), ukhuwah al-insaniyyah (persaudaraan dengan seluruh makhluk), dan ukhuwah al-wathaniyah (persaudaraan dalam kebangsaan). Dengan mewujudkan amanah manusia sebagai Khalifah ini manusia akan terbebas dari tindakan radikal, teror, dan diskriminatif. Sebaliknya, ia akan menjadi Khalifah yang sejati yang akan membumikan nilai-nilai keadilan bagi seluruh alam. []

Leave a reply

error: Content is protected !!