Aktivisme Islam Sebagai Model Gerakan Keagamaan Radikal

0
131

Sangkhalifah.co — Kajian gerakan Islam selalu dinilai berkenaan dengan gerakan sosial. Gerakan sosial merupakan kesadaran kolektif dalam diri masyarakat terhadap beberapa nilai, norma, dan praktik-praktik sosial yang dianggap menindas. Apabila terdapat ketidakadilan ditemukan, maka cara melawannya adalah melalui gerakan. Tidak disebut gerakan, kecuali melibatkan banyak orang. Demikian pula, ini terjadi pada gerakan Islam. Asas gerakan Islam itu sendiri terletak pada keikutsertaan komunitas muslim pada suatu kondisi tertentu.

Pada prinsipnya, terdapat kesamaan karakteristik antara gerakan sosial dan gerakan Islam. Keduanya termotivasi atas adanya konflik sosial. Faktor ini menjadi pemicu munculnya gerakan yang terjadi di masyarakat. Dalam konteks ini, gerakan sosial Islam disebut sebagai aktivisme Islam. Model gerakan ini dimaknai sebagai mobilisati perseteruan untuk mendukung kepentingan dan tujuan kaum muslimin. Hanya saja, gerakan yang terjadi bukan mewakili umat muslim secara keseluruhan.

Dalam praktiknya, aktivisme Islam terjadi sebagai bentuk propaganda. Ada motif yang di balik balik aksi yang mereka lakukan. Tidak serta merta apabila dikaitkan dengan Islam, semua tentu ‘Islam’ dalam arti sebenarnya. Bahkan dalam kaitannya seruan aksi ‘membela Islam’ hanya menjadi kedok untuk menyembunyikan identitas kelompok. Maka tidak heran apabila pengertian ‘Islam’ dalam kasus ini perlu dilihat dalam perspektif sosial dan politik. Sehingga, aktivisme Islam disebut juga dalam melancarkan politik perlawanan.

Di sisi lain, motif gerakan yang dibangun  atas dalih menyatukan masyarakat Islam di seluruh dunia. Dalam bahasa aktivisme Islam disebut juga dengan collective solidarity and identity. Sebuah aksi yang terjadi dalam gerakan Islam kerapkali didorong atas rasa kesamaan identitas yang mewujud dalam rasa solidaritas yang didukung keyakinan agama. Karenanya, aksi gerakan Islam menjadi satu motivasi membela dan memperjuangkan agama Islam. Inilah wacana yang digaungkan sebagai motif gerakan atas nama ‘Islam’.

Untuk melihat kasus gerakan Islam yang sedang terjadi ada baiknya mengetahui struktur aktivisme Islam. Setidaknya ada tiga persoalan yang selalu menjadi domain utama yang perlu ditelaah (Wiktorowicz, 2004: 19). Pertama, kekerasan dan perseteruan (violence and contention). Kedua, jaringan dan aliansi (networks and alliances). Ketiga, kebudayaan dan pembingkaian (culture and framing). Ketiga domain tersebut merupakan pintu gerbang untuk memahami aktivisme Islam.

Mengenal Struktur Aktivisme Islam

Secara definitif, tidak ditemukan pengertian baku tentang aktivisme Islam. Jika ditelaah di dalam soal gerakan sosial, akan akan sangat relevan dalam kesamaan karakternya. Aktivisme Islam kemudian menjadi satu model gerakan Islam yang identik dengan upaya perlawanan dalam bingkai radikalisme. Sehingga, untuk menyebut apakah sebuah gerakan itu masuk dalam bingkai aktivisme Islam atau tidak, perlu mengenali struktur dasarnya.

Pertama, Kekerasan dan Perseteruan (violence and contention)

Aktivisme Islam yang terjadi di berbagai belahan dunia kerap diwarnai kekerasan dan berakhir perseteruan. Kekerasan seperti menjadi ciri khas tersendiri dalam identitas gerakannya. Kendati berangkat atas nama agama, ujungnya tetap kekerasan menjadi jalan aksinya. Tidak segan untuk menyatakan kelompok lainnya sebagai musuh. Apabila telah dicap sebagai musuh, maka melawan secara radikal atau berperang harus ditempuh.

Tidak jarang kemudian, aktivisme Islam di berbagai wilayah di dunia menyisakan perseteruan yang tiada akhirnya. Buntut panjang dari aksi tersebut, memicu kemarahan kelompok selanjutnya. Kemudian perlawanan melengserkan pemerintahan atau bahkan membunuh pimpinan negara menjadi semacam glorifikasi. Bagi para penggemar aktivisme Islam, hal demikian akan diulang terus dalam rangka membangkitkan semangat kepahlawanan pada pendahulunya. Lihat saja kelompok Islam seperti ISIS dan jaringan teroris lainnya.

Dalam kasus ini, seperti dicontohkan Aiman al-Zawahiri salah seorang petinggi al-Qaeda. Pernah suatu ketika menulis kekagumannya terhadap pemikiran Sayyid Quthb yang disebut telah membangkitkan semangat para pejuang Islam. Ajaran akidah dan pemikiran Sayyid Quthb dinilai telah menyadarkan para jihadis untuk melihat siapa kawan dan siapa lawan (al-Zawahiri, 2008: 30). Tentu saja, semua itu berdasarkan pemahaman menurut mereka.

Kedua, Jaringan dan aliansi (networks and alliances)

Di dalam gerakan Islam radikal, jaringan memegang peranan penting terhadap kelangsungannya. Para aktivis radikal merupakan masyarakat yang berjejaring dengan kelompok-kelompok yang memiliki aliansi terhadap terorisme. Kendati kelompok tersebut bukan merupakan kelompok yang memiliki formalitas, tetapi dalam pengaruhnya tetap mengkhawatirkan. Boleh juga dalam istilahnya sebagai kelompok induk dan kelompok sayap.

Kelompok induk menjadi satu model formalisasi gerakan. Sedangkan kelompok sayap menginduk pada model yang ditampilkan kelompok di atasnya. Secara gradual, kelompok sayap menerima ajaran ideologis yang dibawa kelompok induknya. Dari sinilah, mereka menjadi jaringan yang kuat. Kelompok lain yang tidak satu identitas atau ideologi, disebutnya sebagai musuh yang lazim diperangi.

Oleh karenanya, aliansi gerakan menjadi sangat penting posisinya. Seperti misalnya, kelompok JAD (Jama’ah Anshor al-Daulah) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir memiliki jaringan dan aliansi dengan JI (Jama’ah Islamiyah) di  Pakistan. Keduanya memiliki model gerakan yang sama. Perbedaannya terdapat pada objek perlawanan yang berada dalam teritorial negara yang berbeda.

Ketiga, Kebudayaan dan pembingkaian (culture and framing).

Salah satu cara untuk menggerakkan orang dalam jumlah banyak adalah kebudayaan dan pembingkaian. dalam ranah budaya, kita dapat melihat keseragaman yang ada pada kelompok radikalis. Dari sisi penampilan, budaya pakaian betul-betul ditanamkan. Maka menjadi wajar, bila kemudian muncul wacana pakaian tertentu dikaitkan dengan organisasi teroris atau radikalis. Budaya lain yang dicoba untuk ditanamkan dalam aktivisme Islam adalah rasa solidaritas terhadap sesama muslim. Inilah kemudian menjadi satu kelemahan muslim hari ini. Mereka bergerak bahkan tanpa komando apapun. Semua dinyatakan oleh rasa yang bernaung ‘atas nama Islam’.

Segala hal yang dibingkai dalam pemahaman yang menyentuh orang lain akan mengundang simpatik. Seperti dilakukan para jihadis-radikalis misalnya. Mereka tidak pernah menawarkan kekerasan sesungguhnya kepada pemuda yang direkrutnya. Akan tetapi, tawaran surga dan bidadari yang akan menjemput kala mati syahid menjadi satu daya tarik sendiri. Siapa yang tidak tergiur dengan surga, munafik tentunya.

Namun, pembingkaian balasan surga sebagai balasan mereka yang mati syahid dalam jihad menjadi menarik untuk dipercaya. Inilah yang kemudian membudaya dalam proses pencarian simpatisan berikutnya. Tidak heran kemudian banyak kalangan ingin pindah ke ISIS pada beberapa tahun lalu, memiliki tujuan sama. Rata-rata mereka bermimpi ingin hidup damai dan penuh nilai-nilai Islam di dalam negara Islam versi ISIS. Akan tetapi, semua itu berakhir menjadi mimpi belaka.

Dengan demikian, pengenalan terhadap struktur aktivisme Islam menjadi sangat penting untuk ditelaah. Dari struktur tersebut, kita akan terbuka saat melihat fenomena baru yang disebut dengan gerakan sosial Islam. Sebab, pelakunya memang bukan kita. Tetapi, boleh jadi ada kolega, kawan dekat, bahkan keluarga akan tergiur dengan narasi menarik yang mereka tawarkan. Setidaknya melalui pembacaan struktur aktivisme Islam, sebagai umat muslim yang nasionalis akan lebih peka membaca fenomena sosial yang terjadi kemudian. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!