Agama Sebagai Rumah Pemersatu Bangsa

1
163

Sangkhalifah.co — Ajaran agama pada dasarnya selalu menuntun kita menjadi manusia yang berakhlak baik kepada sesama. Dalam hubungan sosial dengan siapa pun, kelompok mana pun, dan umat agama mana pun, orang beragama dituntut mampu menampilkan sikap, sifat, dan perilaku yang baik, bersahabat, toleran, adil, dan bijaksana. Dari sanalah, tujuan agama sebagai pembentuk peradaban bermula.

Akan tetapi, karena ulah kelompok radikalisme-ekstremisme agama, wajah agama menjadi terkesan jauh dari semua itu. Bahkan sebaliknya, agama seakan menjadi sumber kebencian, permusuhan, kekerasan, dan keterpecahbelahan di antara umat manusia. Karena pemahaman agama yang radikal, ekstrem, dan intoleran, sikap-sikap beragama yang muncul bukan mengarah pada pembentukan peradaban, melainkan penghancuran peradaban.

Hal tersebut misalnya, tergambar dari ulah kelompok ekstremisme agama, yang kerap menjadikan agama sebagai topeng untuk melancarkan aksi-aksi intoleransi, kekerasan, bahkan pembantaian yang tak berperikemanusiaan. Alih-alih memberikan rasa aman dan keselamatan bagi sesama, wajah agama di tangan kelompok tersebut justru menjadi begitu garang, kasar, dan gemar menciptakan ketakutan dan kegelisahan.

Di titik inilah, menjadi sangat penting kita renungkan bersama untuk “mengembalikan” peran dan fungsi agama sebagai pemersatu bangsa, penguat persaudaraan, kemanusiaan serta pembangun peradaban. Dalam konteks kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang dikenal agamis dan religius, agama mestinya bisa menjadi perekat hubungan persaudaraan dan sumber pemersatu bangsa.

Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah ketegasan yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, spirit beragama dan berketuhanan tersebut, selain menjadi komitmen memegang teguh ajaran agama masing-masing, juga sekaligus menjadi ikrar menjaga konsensus bersama sebagai negara bangsa: dengan cara saling menghargai antarumat beragama, serta teguh menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Rumah yang nyaman dan mempersatukan   

Bagi masyarakat Indonesia, agama sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan. Aktivitas apa pun dalam hal kebaikan, bagi umat beragama, bisa menjadi bernilai ibadah: pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, kebaikan-kebaikan tersebut memang bersumber atau berdasarkan ajaran agama. Sebaliknya, banyak orang menolak dan menghindari hal-hal, perilaku, atau sifat buruk juga karena larangan dari agama.

Saking melekatnya ajaran agama bagi kehidupan masyarakat Indonesia, agama seolah sudah menjadi rumah yang menaungi kita semua. Di dalam rumah bernama “agama” itulah, kita semua hidup dan mendapatkan arahan-arahan, petunjuk, perintah, dan larangan. Di dalam naungan “rumah besar” agama itu, kita juga hidup bersosialisasi dan berdampingan dengan orang lain sesama saudara sebangsa. Maka, sudah semestinya “rumah” tersebut menjadi tempat-tempat bernaung yang aman, nyaman, dan bisa mempersatukan kita semua.

Komaruddin Hidayat dalam bukunya Agama untuk Peradaban (2019: 3-4) menjelaskan, bahwa takwa ibarat payung yang menaungi sekian ragam perilaku seseorang sesuai kemampuannya. Jadi, jika agama diibaratkan rumah, maka beragama mestinya memberikan kenyamanan dan keamanan, baik bagi penghuninya maupun bagi tetangganya. Dan kenyamanan dan keamanan tersebut hanya bisa dibangun melalui sikap-sikap beragama yang ramah, bersahabat, toleran, dan saling menghargai.

Sebaliknya, Komaruddin Hidayat melanjutkan, keberagamaan yang menimbulkan ketakutan dan kegelisahan bagi orang yang bersangkutan maupun orang-orang di sekitarnya, menjadi kurang sejalan dengan moto bahwa agama adalah sumber rahmat dan kasih bagi semesta. Hal ini, seperti diperlihatkan kelompok radikalisme agama, di mana agama seolah justru membawa kegelisahan, kebencian, dan ketakutan.

Beragama secara radikal, intoleran, penuh kebencian, ibarat hidup dalam rumah yang tidak nyaman dan meresahkan, baik bagi diri sendiri maupun tetangga atau orang lain. Bukannya menjadi tempat tinggal dan tempat bernaung yang aman, nyaman, dan menciptakan keharmonisan, beragama secara demikian itu justru menjadi sumber permusuhan, pertikaian, dan perpecahan bagi lingkungan sekitar.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk membangun hubungan baik dengan umat agama lain. Allah berfirman “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah [60]:8)

Mengutip Alwi Shihab (2019: 34), berdasarkan keterangan tersebut, berbuat baik dan berlaku adil adalah dasar pergaulan Muslim dengan non-Muslim. Inilah yang harus ditekankan, bukan berseteru, memaki, mencerca, apalagi membunuh, selama mereka tidak memerangi agama kamu serta tidak mengusir kamu dari negerimu. Ini menggambarkan bagaimana Islam mengajari kita bergaul dan berinteraksi dengan semua kalangan secara bermartabat, adil, dan damai.

Sekarang kita semakin sadar bahwa agama adalah sumber kebaikan dan orang yang beragama sudah seharusnya memancarkan sikap-sikap baik di mana pun ia hidup dan berinteraksi di bermasyarakat. Bagi umat beragama di Indonesia, ikatan agama tak hanya menguatkan bangunan kelompok internal umat agama itu sendiri, namun juga bisa—dan harus—menjadi penguat ikatan persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan lintas iman. Artinya, agama harus menjadi inspirasi dan sumber pemersatu bangsa, bukan sebaliknya, menjadi alat untuk memecah belah persatuan. [Al-Mahfud]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!