Agama Akal; Kok Mau Disebarkan Dengan Pedang?

0
432

Sangkhalifah.co — Agama akal yang dimaksud adalah agama Islam. Agama yang sering disebut-sebut sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Namun sebelum menjelaskan apa yang dimaksud dengan agama akal yang saya maksud dalam judul artikel ini, saya akan bercerita sedikit tentang mukjizat beberapa Nabi sebelum Nabi Muhammad yang terekam dalam Al-Quran.

Setiap Nabi dalam berdakwah menyebarkan syariatnya diberi fasilitas oleh Allah yang dikenal dengan mukjizat (sesuatu yang bisa melemahkan). Dengan mukjizat inilah para pengikutnya bisa percaya dan meyakini bahwa apa yang dibawakan  oleh para Nabi tersebut adalah benar-benar dari Allah. Nabi Ibrahim As, dengan mukjizat tidak bisa terbakar apa dikisahkan dalam (QS. Al-Anbiya [21]: 69).

Nabi Daud As. dengan mujizatnya bisa melunakkan besi (QS. Saba [34]: 10); Nabi Sulaiman dengan kemampuan paham akan bahasa binatang (QS. Al-Naml [27]: 18), dapat mengendalikan angin (QS. Al-Anbiya [21]: 81) dan para jin tunduk kepadanya (QS. Saba [34]: 10); Nabi Musa dengan tongkatnya diberi kekuatan yang luar biasa: bisa berubah menjadi ular dan membelah lautan (QS. Al-Qashah [28]: 31); Nabi Isa yang diberi kefasihan berbisara sejak bayi, dapat mengobati penyakit, dapat menghidupkan (QS. Ali Imran [3]: 49); Nabi Muhammad SAW dengan kitab sucinya Al-Quran.

Dari beberapa nabi di atas dengan mukjizat masing-masing tidak ada ajarannya yang berlangsung sampai hari akhir, semuanya hanya sampai atau berakhir di zaman mereka masing-masing. Karena mukjizat mereka selalu terhenti di zaman mereka. berbeda dengan Nabi Muhammad ajaran-ajarannya tercantum dalam Al-Quran sebagai kitab suci, juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad. Mukjizat Al-Quran bukan tentang hal yang di luar nalar dan spektakuler, namun dengan logika sederhana yang mampu meruntuhkan logika manusia pada umumnya. Inilah alasan yang dijelaskan oleh Mutawalli Sya’rawi ketika memberi kata pengantar pada karya tafsirnya Khawatiri Hawl al-Quran.

Contoh sederhana tentang beberapa perumpamaan nyamuk dalam Al-Quran:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Asbabun nuzul ayat ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Thabarī dalam Jāmī’ al-Bayān fī Tafsīr Āy al-Qurān adalah ketika orang-orang munafik meremehkan Tuhan karena sebelumnya memberi dua perumpamaan, yakni pada QS. Al-Baqarah [2]: 17, yang memperumpamakan orang dua orang munafik di Madinah yang kabur dari barisan Nabi Muhammad SAW dengan sebuah api yang menerangi di sekitarnya dan setelah itu Allah menghilangkan cahaya yang menyinari dan membiarkan mereka dalam kegelapan dan tidak dapat melihat.

Perumpamaan kedua adalah pada 2 ayat setelahnya yang memperumpamakan mereka seperti sedang ditimpa hujan lebat disertai guruh dan kilat di saat gelap gulita mereka menyumbat telingannya karena takut mati. Wahbah Al-Zuhailī tentang ayat ini bahwa mereka menyumbat telinga mereka sebagai tanda keengganan mereka terhadap ayat-ayat Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw. Dari dua perumpamaan ini, lalu orang-orang munafik berkata: Allah itu Maha Agung dan Maha Tinggi untuk hanya memberikan perumpamaan semisal ini. Sehingga turunlah ayat ini.

Logika yang akan dilawan oleh Al-Quran adalah logika manusia, khususnya orang munafik tadi, bahwa dalam logika kebanyakan orang Dzat yang Maha Agung dan Tinggi seperti Tuhan kenapa hanya membuat perumpamaan dengan nyamuk atau yang lebih kecil dari nyamuk? Karena dalam logika Al-Quran yang akan dihadirkan keagungan tuhan dalam hal penciptaan dan pengadaan akan sesuatu, entah besar atau kecil secara ukuran. Sebagaimana penjelasan Al-Zuhailī tentang ayat ini. Allah seakan menentang para orang munafik bahwa dalam urusan penciptaan, sesuatu yang kecil saja serupa nyamuk belum tentu manusia dapat menciptakannya. Ayat ini meneguhkan bahwa Allah lah sebenar-benarnya pencipta.

Jalan adu argumen sering kali dicontohkan dalam Al-Quran untuk menyadarkan mereka yang belum diberikan  hidayah oleh Tuhan. seperti yang ayat yang saya sebutkan di atas, ayat-ayat tentang keesaan Tuhan, logika kenabian dan masih banyak lagi ayat-ayat yang membuktikan bahwa agama ini benar dengan beradu argumen. inilah yang saya maksud sebagai agama akal. Beradu argumen dalam menyebarkan agama, bukan lagi disebarkan dengan pedang dan kekerasan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!