Absennya Al-Qur’an Soal Sistem Khilafah

1
153

Penegakkan Khilâfah Islâmiyyah masih terus digaungkan sebagian kelompok Islam. Mereka seolah meyakini bahwa penegakkan Khilâfah Islâmiyyah adalah kewajiban suci dari Tuhan atas semua makhluk-Nya di muka bumi. Mereka pun kerap menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai legitimasi untuk perjuangan menegakkan khilâfah.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang dijadikan dasar untuk melegitimasi penegakkan Khilâfah Islâmiyyah adalah Qs. Al-Baqarah [2]: 30.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Baca: Khilafah: Warisan Nabi?

Adapun penafsiran yang sering dijadikan pendukung sebuah penafsiran khilâfah ialah penafsiran Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân dengan redaksi:

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع لتجتمع به الكلمة وتنفذ به أحكام الخليفة ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة الا ما روي عن الأصم

Ayat ini merupakan dalil atas kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati, yang dengan itu kalimat (persatuan umat) disatukan dan dengan itu dilaksanakan aturan-aturan khalifah. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini, baik di kalangan umat maupun kalangan para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Asham.

Dengan mengutip penafsiran Al-Qurtubi tersebut, penyeru khilâfah berkesimpulan bahwa umat Islam wajib mendirikan Khilâfah Islâmiyyah. Namun pertanyaannya, benarkah Al-Qurtubi mewajibkan mendirikan Khilâfah Islâmiyyah? Apa yang hendak disampaikan oleh beliau dalam itu?

Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, Al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini merupakan landasan untuk mengangkat imam atau khalifah yang ditaati untuk menyatukan pendapat dan melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbedaan antar para ulama soal kewajiban ini, kecuali pendapat Asham. Menurut Asham, selagi umat sudah dapat melaksanakan haji, jihad, gotong royong, membagi harta fai, dan kebaikan lainnya, maka mengangkat imam tidaklah wajib.

Baca: Meluruskan Kekeliruan Kaum Radikal

Membaca penafsiran Al-Qurtubi secara utuh di atas, tidak ada indikasi sedikitpun bahwa beliau mewajibkan sistem Khilâfah Islâmiyyah. Apa yang beliau nyatakan adalah kewajiban mengangkat seorang pemimpin guna terlaksananya aturan-aturan khalifah. Al-Qurtubi memaksudkan kata khalifah pada ayat di atas sebagai penguasa, pemimpin, bukan memaknainya sebagai sistem.

Bagi Al-Qurtubi dan ulama-ulama lainnya, tidak ada pertentangan untuk mengangkat seorang pemimpin. Terlepas seperti apakah sistem dan bentuk kepemimpinannya. Titik tekan yang ingin ditegaskan adalah aturan-aturan seorang pemimpin dapat terlaksana dengan baik. Dengan begitu kehidupan umat manusia dapat berjalan dengan teratur.

Pada konteks yang lebih umum, Qs. Al-Baqarah [2] 30 ini turun dalam konteks menjelaskan kepemimpinan Nabi Adam AS yang diangkat oleh Allah SWT menjadi pemimpin di muka bumi. Itu artinya, ayat ini secara substansial menjelaskan pemimpin atau penguasa secara umum di muka bumi. Hal itu karena Adam meeupaka manusia pertama yang diciptakan Allah Swt menjadi seorang khalifah.

Baca: Syariah dan Khilafah; Manakah Yang Lebih Wajib?

Pertanyaan berikutnya, mengapa penyeru khilâfah ‘ngotot’ menggunakan ayat ini sebagai cantolannya dalam Qur’an. Sebelum ayat ini dijadikan cantolan, mereka membuat konsep terlebih dahulu bahwa “khalifah dan khilâfah” merupakan satu paket. Konsep kesatuan ini untuk memudahkan mereka dalam mengambil ayat-ayat yang relevan dengan khalifah. Disinilah otak-atik tafsir dan pemikiran terjadi guna memuluskan penyebaran doktrin dan pemikirannya.

Dengan demikian, mengutip ayat di atas dijadikan sebagai legitimasi kewajiban menegakkan khilâfah merupakan politisisasi ayat Al-Qur’an yang tak dapat dibenarkan oleh agama. Ada pemaksaan pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan oleh para penyeru khilâfah hanya untuk membuat pembenaran melalui ayat suci Al-Qur’an. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!